tugas resume brilian

Penugasan PKKMB Universitas Nahdhatul Ulama Surabaya unusa (Resume Materi PKKMB) Hari Pertama

 Materi I

Prof. Yudi Latif, MA.,Ph.D

Ketua Pusat Studi Islam Dan Kenegaraan Indonesia /PSIK-Indonesia 

Tema: Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri Bangsa, Dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara


    

     Kita memiliki peran strategis sebagai penjaga nurani bangsa—mengawal hak-hak rakyat kecil dan menjaga arah pembangunan tetap berada di jalur kebaikan. Para pemimpin besar negeri ini pun banyak lahir dari rahim gerakan mahasiswa yang kritis dan idealis.

Namun, perjuangan itu harus tetap berpijak pada etika, visi kebangsaan, dan tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip dasar negara. Kritik dan aksi mahasiswa harus membedakan antara idealisme intelektual dan tindakan destruktif. Barbarisme bukanlah jalan perubahan. Justru, disinilah kecerdasan moral dan intelektual mahasiswa diuji: bagaimana bersuara lantang tanpa merusak, bagaimana menekan kebijakan tanpa membakar jembatan bangsa.

Lebih jauh, pembangunan bangsa tidak bisa hanya diukur dari angka-angka makroekonomi seperti GDP per kapita. Kualitas manusia adalah fondasi sesungguhnya. Pendidikan harus membentuk pribadi unggul—dalam pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Maka dari itu, mahasiswa dituntut tidak hanya aktif di ruang kuliah, tapi juga di ruang sosial, organisasi, dan masyarakat. Di situlah soft skill, kepemimpinan, dan tata kelola dibentuk.

Tantangan terbesar kita hari ini adalah memperbaiki tata kelola negeri: memilah mana yang prioritas dan memangkas pemborosan. Sebab, efisiensi tidak boleh mengorbankan hal-hal fundamental seperti pendidikan dan pembangunan manusia. Di tengah kompleksitas ini, mahasiswa harus hadir sebagai agen perubahan yang cerdas, berintegritas, dan berkomitmen menjaga arah bangsa.

Materi II

Erisandy Yudhistira

Priority Banking Manager Bank Mandiri

Tema: Penguatan Literasi Keuangan Dan Kesejahteraan Mahasiswa

   


    Literasi keuangan bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan dasar, terutama bagi mahasiswa. Mahasiswa sebagai generasi produktif harus dibekali pemahaman yang kuat mengenai cara mengelola keuangan secara bijak. Sayangnya, masih banyak mahasiswa yang belum memiliki kesadaran pentingnya perencanaan finansial sejak dini. Pengeluaran yang tidak terkontrol, gaya hidup konsumtif, hingga terjebak dalam utang pinjaman online menjadi masalah yang makin marak.

Literasi keuangan adalah kemampuan memahami, mengelola, dan merencanakan keuangan secara sehat dan bertanggung jawab. Dengan literasi keuangan yang baik, mahasiswa dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mereka juga akan lebih peka terhadap pentingnya menabung, berinvestasi, serta menghindari perilaku impulsif dalam pengeluaran. Tidak hanya untuk kebutuhan sekarang, tetapi juga untuk persiapan masa depan.

Penguatan literasi keuangan tidak harus menunggu masuk dunia kerja. Justru masa kuliah adalah waktu terbaik untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat. Dengan pendapatan terbatas, mahasiswa bisa belajar menyusun anggaran, mencatat pengeluaran, dan menabung secara rutin. Kesejahteraan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga oleh kecerdasan mereka dalam mengelola sumber daya yang ada.

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir keuangan mahasiswa. Melalui seminar, pelatihan, atau bahkan integrasi dalam kurikulum, literasi keuangan bisa ditanamkan sejak awal perkuliahan. Mahasiswa yang paham literasi keuangan cenderung lebih mandiri, tidak mudah panik saat menghadapi kondisi darurat, dan mampu mengambil keputusan finansial yang rasional.

Selain itu, mahasiswa juga perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari peluang pemasukan tambahan yang legal dan produktif, seperti berwirausaha atau bekerja paruh waktu. Dalam jangka panjang, hal ini turut mendukung peningkatan kesejahteraan mereka secara berkelanjutan. Literasi keuangan juga erat kaitannya dengan kesehatan mental mahasiswa. Ketika keuangan terkelola dengan baik, tingkat stres pun bisa ditekan.

Di tengah dunia digital, mahasiswa perlu melek terhadap produk-produk keuangan seperti e-wallet, paylater, asuransi, dan investasi digital. Namun, literasi harus diiringi dengan sikap hati-hati agar tidak terjebak dalam praktik keuangan yang merugikan. Oleh karena itu, penting untuk membangun budaya keuangan sehat yang berbasis pada edukasi, kesadaran, dan tanggung jawab.

Dengan penguatan literasi keuangan, mahasiswa tidak hanya bertumbuh sebagai insan akademis, tapi juga sebagai pribadi yang cakap menghadapi tantangan ekonomi. Ini adalah bekal penting menuju kemandirian finansial dan kesejahteraan hidup yang lebih baik di masa depan.



Materi V

Hari Priantoro, S.E

BNN Provinsi Jawa Timur 

Tema: Mahasiswa Bebas Narkoba menuju Generasi Sukses yang Rahmatan lil 'alamin



    Indonesia kini  tengah menghadapi ancaman serius dalam hal peredaran narkoba yang semakin meluas dan kompleks. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan garis pantai yang sangat panjang menjadikannya sasaran empuk bagi sindikat narkotika internasional. Jumlah pelabuhan tidak resmi yang tersebar di berbagai wilayah memperbesar celah masuknya barang haram ini ke tanah air. Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki pasar yang sangat potensial dengan populasi lebih dari 278 juta jiwa, menjadikannya target utama distribusi narkoba dari luar negeri, khususnya dari Myanmar dan Tiongkok.

Faktor ekonomi menjadi pemicu utama, karena harga jual narkoba di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan di negara asalnya. Hal ini menyebabkan maraknya penyelundupan sabu, ekstasi, dan jenis narkotika lainnya. Sayangnya, daya serap pasar di dalam negeri tetap tinggi karena masih banyak pengguna, terutama dari kalangan muda dan produktif. Bahkan, berdasarkan data tahun 2023, hampir 78% penghuni lembaga pemasyarakatan di Indonesia merupakan pelaku kasus narkotika.

Kondisi ini mencerminkan betapa masifnya penyalahgunaan narkoba di masyarakat. Ironisnya, penindakan yang dilakukan oleh BNN dan aparat penegak hukum belum menunjukkan dampak signifikan dalam menekan angka pengguna dan pengedar. Oleh karena itu, upaya penanganan narkoba tidak bisa hanya dilakukan secara represif, tetapi juga harus dimulai dari pencegahan. Mahasiswa sebagai generasi intelektual dan agen perubahan harus menjadi garda terdepan dalam melawan penyalahgunaan narkoba.

Salah satu langkah penting adalah dengan membangun ketahanan diri dan kesadaran kolektif bahwa narkoba merusak masa depan. Jika tidak ada permintaan, maka suplai pun akan berhenti dengan sendirinya. Kampus harus menjadi zona bebas narkoba dan tempat bertumbuhnya budaya sehat dan produktif. Mahasiswa juga harus memahami bahwa narkotika sebenarnya memiliki manfaat medis, namun hanya jika digunakan sesuai dosis dan pengawasan ketat tenaga medis.

Penyalahgunaan terjadi karena ketidaktahuan dan kebodohan terhadap efek zat adiktif ini. Ketergantungan narkoba tidak hanya merusak tubuh, tapi juga menggerogoti moral dan sosial seseorang. Bahkan, efek psikologisnya bisa memicu gangguan kejiwaan, kriminalitas, dan kehancuran ekonomi pribadi. Penyuluhan, rehabilitasi, dan pemberantasan harus berjalan bersamaan secara sinergis.

Sebagai generasi yang akan memimpin bangsa, mahasiswa wajib memahami bahwa menjaga diri dari narkoba adalah bagian dari tanggung jawab sosial dan spiritual. Kita tidak hanya menyelamatkan diri, tapi juga melindungi keluarga, sahabat, dan masyarakat sekitar. Jadilah pelopor gaya hidup sehat, kritis, dan sadar hukum. Jangan sampai Indonesia menjadi “zona merah” narkoba karena abainya generasi mudanya.


kunjungi blog teman saya:https://ilmamufidahblog.blogspot.com/2025/09/meresume-3-materi-pkkmb-one-day-one.html




Media Sosial Unusa:

Instagram

Facebook

Youtube

Twitter (X)

TikTok


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Berita (Unusa Buka Kesempatan Beasiswa KIP Kuliah untuk Masuk Fakultas Kedokteran)

resume pkkmb day 2